Demo Ojek Online Tuntut Keadilan Tarif dan Jaminan Sosial
![]() |
| Cr. Agil Trisetiawan Putra/detikJateng |
Jakarta, 20 Mei 2025 - Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang seharusnya menjadi momen refleksi persatuan bangsa, justru diwarnai dengan aksi besar-besaran para pengemudi ojek online di berbagai daerah. Ribuan driver dari berbagai platform aplikasi turun ke jalan dalam demo ojek online yang digelar serentak di sejumlah kota besar, termasuk Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan.
Aksi yang berlangsung damai ini menyoroti berbagai tuntutan yang selama ini dianggap diabaikan oleh perusahaan aplikasi dan pemerintah, mulai dari ketidakjelasan sistem tarif, potongan komisi yang tinggi, hingga tuntutan akan jaminan sosial dan perlindungan kerja. Demo ojek online ini menjadi salah satu aksi terbesar dalam sejarah transportasi daring di Indonesia, bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional.
Dalam pernyataan resminya, perwakilan driver ojek online yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) menyampaikan lima tuntutan utama dalam demo ojek online kali ini:
Keadilan Tarif, driver meminta adanya penyesuaian tarif dasar yang lebih manusiawi dan sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini. Mereka menilai tarif per kilometer yang diberlakukan saat ini sangat merugikan, terutama di tengah lonjakan harga BBM dan biaya operasional.
Penghapusan Potongan Komisi yang Mencekik, salah satu tuntutan yang paling disuarakan dalam demo ojek online ini adalah pengurangan komisi perusahaan aplikasi. Driver menuntut agar potongan komisi tidak melebihi 10% dari total pendapatan.
Jaminan Sosial dan Asuransi Kecelakaan Kerja, banyak driver yang merasa rentan tanpa adanya perlindungan sosial. Mereka berharap pemerintah mewajibkan perusahaan aplikasi untuk menyediakan BPJS Ketenagakerjaan dan perlindungan kecelakaan kerja.
Status Kerja yang Jelas, isu status hukum antara “mitra” dan “karyawan” kembali mengemuka. Dalam demo ojek online, para driver menuntut kejelasan status mereka agar memiliki hak dan perlindungan yang setara dengan pekerja formal.
Berita terkait: Demo Ojol dan Ketimpangan Keadilan Ekonomi Digital Indonesia
Transparansi Algoritma dan Sanksi, para driver menyoroti kecurigaan atas sistem algoritma yang dianggap tidak adil. Mereka juga menolak sistem sanksi sepihak dari aplikasi yang tidak memberikan ruang klarifikasi.
Menariknya, banyak pihak menganggap bahwa demo ojek online yang dilakukan pada 20 Mei ini merupakan simbol kebangkitan baru kaum pekerja informal di era digital. Dalam konteks Hari Kebangkitan Nasional, aksi ini dianggap sebagai bentuk perjuangan modern untuk keadilan sosial dan ekonomi. “Kalau dulu kebangkitan nasional dimaknai dengan perjuangan melawan penjajah, hari ini kami berjuang melawan ketimpangan sistem ekonomi digital yang tidak berpihak pada pekerja lapangan,” ujar Rahmat, koordinator lapangan demo ojek online di Jakarta.
Menanggapi aksi demo ojek online, Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan akan segera memanggil perwakilan perusahaan aplikasi untuk duduk bersama dan membahas regulasi yang lebih adil. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, menegaskan bahwa pemerintah akan meninjau ulang aturan yang mengatur hubungan kerja antara pengemudi dan platform. “Kami memahami aspirasi para pengemudi. Regulasi ke depan harus bisa menjawab tantangan pekerjaan di era digital,” katanya.
Sementara itu, salah satu perusahaan aplikasi menyampaikan bahwa mereka terbuka untuk berdialog dan berkomitmen meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi. Namun, perusahaan juga mengingatkan adanya tantangan bisnis dan persaingan ketat di sektor transportasi daring. Berbeda dari beberapa aksi sebelumnya, demo ojek online kali ini berlangsung tertib dan tanpa insiden berarti. Aparat keamanan yang dikerahkan menjaga jalannya aksi tetap kondusif, bahkan ikut membantu mengatur lalu lintas di sekitar lokasi unjuk rasa.
Banyak masyarakat yang justru memberikan dukungan moral kepada para pengemudi. Sejumlah netizen di media sosial menyatakan simpati mereka dan menganggap perjuangan driver ojek online sebagai bentuk nyata “kebangkitan rakyat kecil” di tengah sistem ekonomi yang semakin tak berpihak. “Saya support aksi damai ini. Mereka yang sehari-hari mengantar kita ke mana pun, kini saatnya kita dengar suara mereka,” tulis akun @reni_pras di X (sebelumnya Twitter).
Dengan berlangsungnya demo ojek online pada Hari Kebangkitan Nasional, banyak pihak berharap akan ada perubahan nyata yang bisa dirasakan oleh para pengemudi. Aksi ini bukan hanya soal tarif, tetapi tentang masa depan pekerjaan di era digital, di mana keadilan dan perlindungan harus menjadi prioritas. Dengan tuntutan yang disuarakan secara masif dan momentum Hari Kebangkitan Nasional yang penuh makna, demo ojek online ini diharapkan bisa menjadi titik balik dalam membangun ekosistem kerja digital yang lebih manusiawi dan berkeadilan.

Comments
Post a Comment