Kerja 24/7 Bukan Gaya Kami: Gen Z Mau Karier, Tapi Nggak Mau Kehilangan Diri
![]() Cr.123rf |
Jakarta, 21 Mei 2025 - Di tengah dunia kerja yang semakin kompetitif, muncul satu sikap unik dari generasi termuda di dunia profesional saat ini: Gen Z. Generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an ini dikenal vokal dalam menyuarakan nilai-nilai hidup yang seimbang. Bagi Gen Z, kerja 24/7 bukanlah simbol loyalitas, melainkan tanda sistem kerja yang tidak sehat.
Istilah kerja 24/7, yang berarti bekerja tanpa henti sepanjang waktu, kini menjadi hal yang ditolak mentah-mentah oleh banyak anak muda. Mereka lebih memilih budaya kerja yang mendukung work-life balance, memperhatikan kesehatan mental, dan memberi ruang untuk aktualisasi diri di luar pekerjaan. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang melihat lembur sebagai bentuk dedikasi, Gen Z justru mempertanyakan praktik tersebut. Mereka menolak gagasan bahwa kerja 24/7 adalah satu-satunya jalan menuju sukses.
Banyak dari mereka yang lebih memilih pekerjaan dengan fleksibilitas waktu, cuti yang manusiawi, serta pimpinan yang suportif. “Kami tidak hidup untuk kerja, tapi bekerja untuk hidup,” ujar Nadia, seorang profesional muda di Jakarta yang memilih pindah ke perusahaan yang lebih menghargai batas waktu kerja.
Menurut survei yang dilakukan oleh Deloitte tahun 2024, 76% Gen Z di Asia Tenggara mengaku bahwa kesehatan mental lebih penting dari kenaikan jabatan. Mereka mencari makna dalam pekerjaan, bukan hanya angka gaji atau status jabatan. Kerja 24/7 telah dikaitkan dengan peningkatan angka stres, depresi, hingga gangguan tidur. Banyak kasus burnout ditemukan pada pekerja muda yang dipaksa bekerja lembur terus-menerus tanpa kejelasan jam kerja.
Di media sosial, tagar seperti #StopGlorifyingOverwork dan #NoMoreBurnout banyak digunakan oleh Gen Z untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap budaya kerja yang tidak sehat. Mereka tidak lagi bangga ketika harus mengorbankan waktu pribadi demi mengejar target perusahaan. “Dulu saya pikir lembur itu keren, tapi setelah burnout dua kali dalam setahun, saya sadar hidup saya bukan milik kantor,” kata Naura, seorang pekerja PNS.
Berita terkait: Gen Z Gak Mau Kerja Biasa Aja, Maunya Fleksibel, Benarkah?
Dengan makin banyaknya Gen Z yang memasuki dunia kerja, perusahaan pun harus mulai berbenah. Budaya kerja yang menuntut kerja 24/7 harus ditinggalkan jika ingin mempertahankan talenta muda. Salah satu bentuk adaptasi yang dilakukan perusahaan adalah menerapkan kebijakan hybrid working, memberikan fleksibilitas waktu, dan memprioritaskan kesejahteraan karyawan. Tidak sedikit juga perusahaan yang mulai menyediakan fasilitas konseling, waktu istirahat tambahan, hingga pelatihan kesehatan mental bagi karyawan.
Stigma bahwa Gen Z malas atau tidak loyal karena menolak kerja 24/7 tidaklah tepat. Sebaliknya, mereka justru ingin produktif tanpa kehilangan jati diri. Mereka ingin bekerja di lingkungan yang menghargai batasan, mendukung pertumbuhan, dan memanusiakan karyawan. Gen Z juga dikenal adaptif terhadap teknologi, cepat belajar, dan berani mengambil risiko. Namun mereka menolak dikendalikan oleh sistem yang menuntut pengorbanan berlebihan tanpa imbalan yang setimpal.
“Kerja boleh, ambisi juga penting, tapi jangan sampai lupa istirahat, main, dan punya waktu buat diri sendiri,” tutur Naura. Banyak perusahaan kini mulai melihat bahwa strategi mempertahankan karyawan muda bukan lagi dengan bonus besar atau jabatan cepat. Sebaliknya, yang lebih efektif adalah menciptakan tempat kerja yang inklusif, sehat, dan memberi ruang untuk berkembang secara holistik.
Dalam konteks ini, kerja 24/7 sudah tidak relevan lagi. Gen Z bukan generasi yang mencari karier semata, melainkan hidup yang utuh: punya waktu untuk keluarga, teman, hobi, dan diri sendiri. Pergeseran nilai ini bukan hanya tren sementara, tapi sinyal perubahan mendasar dalam dunia kerja. Gen Z menuntut cara baru dalam melihat sukses bukan dari seberapa lama mereka duduk di meja kantor, tapi dari seberapa bahagia dan bermaknanya hidup yang mereka jalani.

Comments
Post a Comment